Languages فارسی فارسى درى English اردو Azəri Bahasa Indonesia پښتو français ไทย Türkçe Hausa Kurdî Kiswahili Deutsche РУС Fulfulde Mandingue
Scroll down
Hikmah

Kezuhudan, Cermin Kekuatan Jiwa

2020/07/12

Kezuhudan, Cermin Kekuatan Jiwa

Islam merupakan pendukung kekuatan: kekuatan jiwa dan ekonomi. Islam merupakan pendukung kekuatan jiwa. Dengan demikian, sebagai orang Muslim, Anda harus kokoh dari segi akhlak dan moral. Anda tidak boleh memfokuskan diri pada materi. Anda tidak boleh menjadi hamba sahaya serta tawanan materi. Betapa agung ucapan Amirul Mukminin: “Kezuhudan semuanya terletak di antara dua kata dalam al-Quran.” [Nahj al-Balâghah, “Faidhul Islam”, Hikmah ke-34, hal. 1291]

Imam Ali as menafsirkan kezuhudan dari sisi kekuatan jiwa dengan mengatakan: “Allah menjelaskan dalam al-Quran: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” [QS. al-Hadîd: 23]

Saat Anda secara spiritual telah mencapai kedudukan ini, yakni Anda dianugerahi seluruh ihwal kehidupan duniawi, Anda tidak serta merta menjadi budak hawa nafsu. Dan apabila seluruh ihwal kehidupan duniawi direnggut, Anda tidak merasa kalah dan frustasi. Dalam kondisi seperti ini, Anda disebut sebagai orang yang zuhud. Islam mendukung dua jenis kekuatan; kekuatan yang berhubungan dengan kezuhudan dan keduniawian. Jiwa kita harus tegar sehingga tidak diperbudak oleh harta dan kekayaan dunia.

Dari perspektif ekonomi, kita harus bekerja keras untuk mencari harta dan kekayaan. Namun upaya tersebut harus didasari oleh tuntunan syariat sehingga kita bisa benar-benar memanfaatkan kekuatan materi dan ekonomi. Ketika mengetahui bahwa Islam mendukung kekuatan tersebut (moral dan ekonomi), Anda bisa melihat bahwa sesungguhnya kita tergolong orang-orang zuhud yang mendukung sekaligus memiliki kelemahan (terhadap kedua faktor tersebut).

Apabila kita menjadi orang zuhud yang senantiasa menjauh dari ekonomi dan kekayaan, itu artinya kita lebih memilih kelemahan. Masyarakat yang tidak memiliki kekayaan, tidak akan mampu melaksanakan tugas-tugas ekonomi dan harus mengulurkan tangan untuk mengemis kepada orang lain. Kita juga mempunyai kelemahan dari sisi moralitas. Sebab, pada saat mendidik diri untuk menjauh dari harta dan kehidupan dunia, kita menyangka bahwa diri kita sudah menjadi zuhud. Namun, tatkala kehidupan dunia menghampiri mereka, kita akan saksikan bagaimana mereka mengabaikan nilai-nilai kezuhudan.

Kita menyadari bahwa kita tidak memiliki kemampuan dari segi ruhani maupun ekonomi. Jadi, kezuhudan dalam Islam merupakan kekuatan dan kemampuan jiwa. Dengan kekuatan dan kemampuan tersebut, harta, kekayaan, dan segala hal yang bersifat duniawi, tidak akan berbahaya jika berada dalam genggaman Anda. Bahkan semua itu akan menjadi kekuatan Anda.

Beberapa ulama pernah mengunjungi Imam Jafar as dan menentang pendapat beliau. Padahal, mereka sesungguhnya tidak memahami filsafat kezuhudan. Mereka mendengar bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan orang yang zuhud pada zamannya. Mereka menyangka Imam Ali mendukung orang yang hidup dengan berpakaian compang-camping dan memakan roti kering. Mereka tidak memahami filsafat memakan roti kering. Imam Jafar as kemudian memberi penjelasan sampai mereka memahami filsafatnya. Mengapa Imam Ali hidup zuhud? Sebabnya, beliau ingin menjadi manusia. Imam Ali bukan orang zuhud yang hanya duduk-duduk di sudut ruangan. Beliau bahkan menganggap pengucilan diri bukan sebuah kezuhudan.

Dalam kehidupannya, Imam Ali as senantiasa berbaur dengan masyarakat dan melakukan berbagai kegiatan sosial serta memproduksi kekayaan melebihi siapapun. Namun, beliau tidak menggenggam kekayaan tersebut di telapak tangannya. Beliau mengumpulkan harta, namun tidak menyimpannya. Pekerjaan produktif manakah yang tidak dikerjakan Imam Ali as pada masa itu? Beliau melakukan perniagaan, bercocok tanam, berkebun, menanam pohon, dan menggali lubang. Beliau juga ahli dalam bidang kemiliteran. Namun pada waktu yang bersamaan, beliau merupakan orang yang zuhud.

Imam Ali as pernah bekerja di kebun-kebun kota Madinah milik ahli kitab dan Non-Muslim. Beliau bekerja, membantu, dan memperoleh gaji dari mereka. Kemudian beliau menukar upah yang didapatkan dengan roti. Terkadang beliau membawa gandum dan tepung ke rumahnya. Kemudian Sayyidah Fathimah as sendiri yang menggiling gandum tersebut dan memasaknya. Mereka pernah didatangi orang-orang yang membutuhkan, yakni orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang. Imam Ali as merupakan pribadi yang lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Tanpa pikir panjang lagi, beliau akan segera memberikan santapannya. Seperti inilah kezuhudan Imam Ali.

Orang zuhud seperti inilah yang harus Anda jumpai. Dalam kezuhudannya, Imam Ali senantiasa menyertakan dirinya dalam kedukaan (orang lain). Menyertakan diri dalam kedukaan orang lain merupakan keadaan yang manusiawi. Beliau tidak hanya memperhatikan para tetangga, namun juga keseluruhan umat manusia. Dalam hal ini, beliau sering mengatakan: “Dan keserakahan membawa saya untuk memilih makanan yang bagus-bagus, sementara di Hijaz atau di Yamamah (dekat teluk Persia), mungkin ada orang yang tak mempunyai harapan untuk mendapatkan roti, atau tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan sampai kenyang.” Inilah pengertian zuhud yang sesungguhnya.

Pada suatu ketika, Rasulullah tidak datang (ke masjid) di waktu salat. Setelah itu diketahui bahwa tatkala waktu salat akan tiba, seseorang yang tidak mengenakan pakaian mendatangi rumah beliau. Saat itu, Nabi saw tidak memiliki apapun kecuali baju kasar yang melekat di tubuhnya. Namun, beliau tetap memberikannya kepada orang tersebut. Dikarenakan itulah, Nabi menjadi berhalangan untuk datang ke masjid. Inilah bentuk kezuhudan dan kemanusiaan.

Rasulullah saw menyuruh seseorang membeli baju untuk beliau. Orang itu kemudian membeli baju yang cukup bagus seharga dua belas dirham. Setelah itu, ia segera kembali. Rasulullah saw memandang ke arah orang tersebut seraya mengatakan: “Saya lebih puas mengenakan pakaian yang lebih murah dari ini.”

Kemudian Rasulullah sendiri yang pergi menukarkan kembali pakaian tersebut dengan yang lebih murah. Di tengah jalan, beliau menjumpai seorang budak perempuan kecil yang sedang menangis. Kemudian Rasul menghampirinya dan berkata: “Mengapa kamu menangis?” Gadis kecil itu menjawab: “Saya telah menghilangkan uang majikan saya.” Rasulullah segera memberinya empat dirham, lalu pergi.

Dengan uang sebanyak empat dirham, Rasulullah membeli dua buah baju yang salah satunya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah melihat budak perempuan kecil tadi masih duduk dan menangis. Rasulullah kembali bertanya: “Mengapa kamu masih menangis?” Dia menjawab: “Karena terlambat, saya tidak berani pulang ke rumah, mereka pasti akan memukuli saya.”

Beliau berkata: “Saya akan mengantarmu pulang.”

Setelah gadis kecil tersebut menunjuk pintu sebuah rumah, Rasulullah mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum, wahai penghuni rumah.”

Kebiasaan Rasulullah ketika hendak masuk rumah orang lain adalah mengucapkan salam (ini juga merupakan perintah al-Quran yang melarang masuk ke rumah tanpa izin). Rasulullah kemudian mengeraskan ucapan salamnya. Mendengar suara Nabi, hati penghuni rumah tersebut berdebar-debar.

Rasulullah kembali mengucapkan salam, namun penghuni rumah tidak juga menjawabnya. Sampai pada salam yang ketiga, akhirnya mereka menjawab: “Wa’alaikassalam ya Rasulullah. Silahkan masuk.”

Rasulullah saw bertanya: “Apakah kalian tidak mendengar salam pertama saya?”

Mereka menjawab: “Ya, kami mendengar, namun kami ingin Anda mengulangi ucapan salam, karena hal itu memberi berkah kepada keluarga kami. Apabila kami menjawab salam pertama Anda, maka kami tidak akan mendapatkan (berkah) salam kedua dan ketiga. Karena kami tahu bahwa Anda akan mengucapkan salam sebanyak tiga kali, dengan sengaja kami tidak menjawab salam Anda.”

Rasulullah memasuki rumah tersebut seraya berkata: “Kedatangan saya ingin membantu gadis kecil yang datang terlambat ini. Semoga tidak merepotkan kalian.”

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, dikarenakan kedatanganmu, kami membebaskannya.”

Rasulullah saw kembali berkata: “Segala puji bagi Allah, dengan dua belas dirham saya memberi pakaian orang yang telanjang dan membebaskan seorang budak!”

Inilah kezuhudan (yang sebenarnya). Inilah filsafat kezuhudan yang islami, yang membuat hati, kemanusiaan, dan menyertakan diri dalam kedukaan (orang lain) menjadi hidup.

Sumber: Syahid Murtatha Muthahhari